Patriot Sejati Itu Bernama Letjen Prabowo Subianto

oleh

LAHIR di Jakarta 17 Oktober 1951, mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad berpangkat terakhir Letnan Jenderal ini kini berusia 67 tahun.

Sebagai purnawirawan jenderal bintang 3, Prabowo Subianto identik dengan karakternya yang tegas dan bahkan cenderung terkesan keras.

Jiwa patriot Prabowo diakui oleh Gus Dur yang menyebut bahwa Prabowo adalah orang yang paling iklas kepada rakyat Indonesia.

Sementara sebagai politikus, Prabowo bukanlah politikus ulung. Setidaknya, itulah kesan Cak Nun yang menyebut Prabowo tak bisa berbohong dan bermain watak.

Di militer, Prabowo memiliki karier cemerlang. Dia meraih tiga bintang di pundaknya pada usia yang sangat muda.

Ia sempat dijuluki sebagai “the rissing star” alias bintang yang sedang naik daun, kala itu.

Namun kariernya emas itu terhenti nyaris bersamaan dengan berakhirnya kekuasaan sang mertua yang selama 32 tahun menjadi “penguasa tunggal” di era orde baru. Letjend Prabowo Subiyanto diberhentikan dari dinas kemiliteran pada 21 Agustus 1998.

Ia dipersalahkan dalam kerusuhan Mei 1998.

Hampir dua tahun menenangkan diri di Yordania, pada 2 Januari 2000, Prabowo kembali ke tanah air dan menggeluti bisnis.

Delapan tahun kemudian, atau pada 2008 ia mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang langsung menjadikannya tiket untuk menjadi calon wakil presiden mendampingi Megawati.

Duet Mega-Prabowo pada Pemilu 2009 kandas oleh dominasi SBY yang kala itu menggandeng Boedinono.

Pada 2014, Prabowo kembali bertarung di kancah perpolitikan nasional. Bersama Hatta Rajasa, Prabowo bertanding melawan Joko Widodo yang berpasangan dengan Jusuf Kalla.

Lagi-lagi, 2014 ini Prabowo gagal merebut hati mayoritas rakyat Indonesia yang kala itu tengah euforia berharap besar dari sosok Jokowi yang seolah menjadi antitesis dari presiden sebelumnya, Soesilo Bambang Yoedoyono.

Pilpres 2019

Langkah Prabowo Subianto berlanjut pada Pilpres 2019, dimana untuk pertama kalinya, Pilpres digelar bersamaan dengan Pileg.

Nyaris sama dengan 2014, rivalitas dua pasangan yang bertarung menciptakan polarisasi di masyarakat pemilih.

Tampilnya dua pasangan membuat dua kelompok pendukung yang kental sekali nuansa “berhadapan” di antara keduanya.

Nyaris sama, antara 2014, pada 2019 ini polarisasi tersebut menciptakan kampanye hitam di antara kedua kubu.

Sejumlah isu negatif lekat menyasar pada Prabowo maupun Jokowi, dua tokoh sentral yang bertarung untuk keduakalinya.

Tahap pencoblosan di Pilpres 2019 telah dilalui bersama pada 17 April lalu, namun pemilu belum usai.

Masa-masa kritis pascacoblosan, yaitu penghitungan dan rekap suara tengah berjalan yang sarat dengan isu-isu kecurangan yang masif. Lalu benarkah kecurangan itu ada? Tentu tidak ada yang bisa memastikan, namun yang jelas Pemilu 2019 adalah pemilu paling rumit di dunia.

500 orang lebih meninggal dunia menjadi penguat bagaimana Pemilu kita kali ini memang super duper rumit.

Hingga saat ini, proses penghitungan suara masih terus berjalan.

Semua sepakat, sebelum 22 Mei 2019, dimana KPU akan menggelar pleno rekapitulasi nasional, maka belum ada keputusan siapa yang unggul memperoleh simpati mayoritas pemilih.

People power

Menghadapi momen 22 Mei mendatang, kata-kata yang paling sering kita dengar kali ini adalah ancaman people power yang seolah-olah menakutkan kita semua.

Dan narasi tersebut dibangun oleh pihak Prabowo Subianto yang juga membangun narasi adanya kecurangan dalam ajang Pilpres 2019 ini.

People power sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Bahkan reformasi juga dibangun dari fondasi gerakan massa yang sukses menjadi kayu bakar semangat menggulingkan rezim orde baru di bawah kepemimpinan Soeharto.

Hanya yang patut untuk diluruskan adalah, people power seyogyanya tidak dimaksudkan untuk melawan angka-angka yang sedang berjalan.

People power harus dimaknai sebagai upaya untuk mengawal dan menjamin tidak ada satu suara rakyat pun di Pemilu 2019 yang diselewengkan.

Dan jika semuanya sudah berjalan dengan jujur dan adil, entah itu melalui Pleno KPU atau terpaksa melalui Mahkamah Konstitusi, maka siapapun yang terpilih, semua pihak harus legowo.

Dan lagi-lagi soal legowo, Prabowo Subianto telah memberikan contoh kepada kita semua. Ia mungkin satu-satunya capres tak terpilih yang dengan jiwa besar menghadiri pelantikan rivalnya sambil berdiri memberikan hormat.

Momen ini terjadi pada saat Joko Widodo dilantik dan mengambil sumpah 2014 lalu.

Bagaimana dengan situasi 2019 ini? yang jelas Prabowo kali ini masihlah Prabowo yang sama dengan 2014 lalu.

Ia tetaplah sosok patriot yang memiliki jiwa besar. Coba carilah tokoh lain, atau capres lain yang bersedia menghadiri lawannya dilantik sementara dia kalah.

Tampaknya hanya Prabowo yang sanggup melakukan itu.

Untuk itu jika saat ini dia dan kelompoknya tengah membangun narasi-narasi politik, tentang kecurangan, kita harus maknai sebagai upaya memperjuangkan kebenaran yang diyakini.

Kita harus percaya, dia akan sangat komitmen dan berani mengakui kekalahan jika memang demikian adanya.

Pun demikian, harapan serupa juga kita sematkan kepada Jokowi. Kita harus yakin baik Jokowi dan Prabowo adalah putra-putra terbaik bangsa ini yang siap kalah dan siap menang.

Kita berharap, angka-angka yang sedang berjalan, dihitung satu demi satu adalah angka yang merepresentasikan amanah dari seluruh rakyat.

Tak lupa, kita juga terus mendorong dan yakin bahwa KPU telah bekerja dengan baik.

Karena kejujuran dan keadilan dalam seluruh aspek Pemilu adalah awal dari legitimasi sebuah kepemimpinan yang diperoleh dari Pemilu. (***) ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!